Skenario Jahat Kades Labobar Singkirkan Bendahara Desa Terungkap, Ini Masalahnya


Saumlaki, (Tanimbar) Kompas86tv.com_,          Daeng Ali Bugis, Kepala Desa (Kades) Labobar, kecamatan Wuarlabobar, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, secara sadar dan sengaja berusaha singkirkan Bendahara Desa (Bendes) setempat dengan cara licik, tak manusiawi dan bermoral. Kepada awak media ini di Saumlaki, Senin (21/11/2022), Armin Maswatu Bendes Labobar mengungkap siasat busuk Kades dengan tujuan melengserkan Bendahara pengelola keuangan desa Labobar. 

Dikatakan, Kades Labobar meminta Bendes Armin Maswatu mengembalikan semua nota pencairan dan penggunaan Dana Desa dari  Alokasi Dana Desa (DD/ADD). Pencairan ADD dan DD Labobar tahap pertama di BPDM Saumlaki pada tanggal 15/7/2022 lalu, sebesar Rp 214 juta. Uang tersebut telah dibelanjakan sesuai RAB. Sisa kedua pencairan tahap pertama senilai Rp 315 juta yang diambil tanggal 17/10/2022 untuk pemberian BLT kepada masyarakat serta membayar gaji perangkat desa. Semua arsip berikut nota pencairan sudah diambil dan ada pada Daeng Bugis. Tujuannya sudah sangat jelas agar Bendes tidak bisa membuat laporan Buku Kas Umum Desa (BKUD) dan ini dijadikan senjata untuk memperlihatkan kepada para pejabat bahwa Maswatu tidak mampu kerja dan layak diganti, terang Maswatu. 

Saat pencairan DD dan ADD tanggal 18/11/2022 sejumlah Rp.520, 9 juta yang dicairkan dari BPDM, Kades kemudian mengambil uang yang masih didalam tas plastik dari Bendes seraya mengisi dalam tas rangsel miliknya. Setelah itu, Bendes mengikuti Kades yang inap di penginapan Ratulel Saumlaki dan minta tandatangani kwitansi bahwa uang tersebut sudah diambil alih Daeng Bugis. Tak sampai disitu saja, Kades dan Sekdes Labobar meminjam uang di salah satu pengusaha di Saumlaki berinisial HJT sebesar Rp.40 juta. Tetapi lagi-lagi isu yang dikembangkan di desa Labobar bahwa Maswatu yang pinjam dan pakai anggaran tersebut.

Saat keluarga Bendes ke rumah Kades menanyakan perihal tersebut, dengan jujur Daeng Bugis akui bahwa dia dan Sekdes setempat yang melakukan pinjaman dan menggunakan uang tersebut, tanpa diketahui Maswatu. Kepada pihak keluarga, Kades akui bahwa dia dan Sekdes yang pinjam uang 40 juta Rupiah dipakai untuk bayar hutang pajak THN 2021 dan perjalanan dinas, terangnya.

Dijelaskan, ketika masalah ini dibawa ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Kepualauan Tanimbar, Daeng Bugis sampaikan kepada Kepala Dinas bahwa Bendes sudah tidak percaya Kades dan Kades juga sudah tidak percayai Bendes. Karena itu sebagai Kades, Daeng Bugis tahan uang desa Labobar. Saat itu, Kadis DPMD katakan, masalah pengelolaan ADD dan DD Labobar ini soal suka dan tidak suka. Sebaiknya pulang dan atur baik-baik di desa secara internal. Kasus pengambilalihan kewenangan Bendes oleh Kades Labobar juga telah dibicarakan dengan Inspektorat Daerah. Sarangnya, Maswatu diminta tidak menandatangani Laporan Pertanggungjawaban Keuangan Desa Labobar tahun 2022, ujar Bendes.

"Saya dan keluarga di desa Labobar minta nama baik & kehormatan kami dihargai dan dipulihkan. Hentikan budaya menjelek-jelekkan orang lain dengan isu murahan dan tidak memiliki dasar kebenaran data yang bisa dipertanggungjawabkan bahkan Mawastu menyebutkan bahwa ulah Kades seperti ini hanya untuk membuka kebohongan dan kelemahan Kades sendiri karena semua tindak tanduk dia ada dalam tangan bendahara, ungkap Maswatu kesal.


(Ais Labobar)

Kompas86tv.com Media Kita Bersama

Komentar